Mengenal Jargon dan Menghindarinya

Kesederhanaan adalah salah satu kunci dalam menulis. Tulisan yang bagus di media massa atau blog umumnya disajikan sederhana, melalui kosakata populer sehari-hari.

Hal itu bertentangan dengan anggapan umum bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan bertabur istilah rumit, abstrak dan asing (Inggris khususnya) sekadar untuk menunjukkan bahwa penulisnya pintar.

Tujuan menulis di media massa adalah membantu pembaca memahami soal yang ditulis; bukan memamerkan kepintaran penulis.

Namun, kini ada kecenderungan besar artikel dan berita di media massa ditulis dengan bahasa yang sulit dipahami.

•    Korban luka tabrakan sepeda motor sudah dievakuasi.
•    Infrastruktur transportasi di Kalimantan terdegradasi.
•    Banten mengalami kejadian luar biasa malaria.
•    Warga miskin Papua mengkonsumsi nasi jagung.
•    Semarang banjir, kegiatan belajar-mengajar dihentikan.
•    Polisi menangkap tersangka pelaku curat dan curas.
•    Pengamat mencurigai kader Partai XYZ bermasalah.

Tulisan-tulisan di atas mengandung jargon dan kata-kata abstrak yang sulit dipahami orang awam. Apa sebenarnya jargon itu?

Jargon adalah istilah khusus yang diciptakan dan dipakai dalam bidang keilmuan, profesi, kegiatan atau kelompok tertentu. Tiap profesi dan bidang keilmuan (kedokteran, ekonomi, geologi dan sebagainya) memiliki jargon sendiri yang hanya dipahami pelaku profesi dan pengkaji ilmu bersangkutan.

Tiap lembaga atau kementrian pemerintah memiliki jargon sendiri-sendiri dan hampir tiap hari mereka memproduksi jargon, baik dalam bentuk istilah-istilah baru maupun akronim/singkatan baru. Seperti jargon, akronim tertentu hanya dipahami lingkungan tertentu.

“Kejadian Luar Biasa” adalah istilah Kementrian Kesehatan yang hanya dipahami birokrat kementrian itu dan para dokter. “Peserta didik” dan “kegiatan belajar-mengajar” adalah istilah yang dipopulerkan Kementrian Pendidikan.

Curat dalam contoh di atas adalah istilah kepolisian; kependekan (akronim) dari “pencurian dengan pemberatan”. Tapi bahkan dalam kepanjangannya, istilah itu tetap tidak jelas: apa yang dimaksud dengan pencurian dengan pemberatan? Apa pula bedanya dengan curas atau “pencurian dengan kekerasan”?

Orang memakai jargon untuk memudahkan komunikasi dalam kelompok atau lingkungan tertentu. Motif lain penggunaan jargon: agar komunikasi dalam kelompok tidak diketahui kelompok lain, misalnya untuk kebutuhan kerahasiaan militer.

Jargon juga mengambil bentuk istilah-istilah yang abstrak atau ambigu, serta kurang spesifik. Pemakainya enggan memakai istilah spesifik karena dia sendiri tidak tahu pasti atau istilah spesifik cenderung berkonotasi negatif/kasar. Jargon dipakai dalam eufemisme, untuk melunakkan sebuah fakta.

•    Apa yang dimaksud dengan kader bermasalah?
•    Mengapa kita memakai istilah “mengkonsumsi” bukan “makan”?

Jargon menyebar luas umumnya karena dikutip media begitu saja. Para wartawan mendengar kata-kata sumber berita (pejabat, polisi, ilmuwan) dan menulis ulang begitu saja tanpa sadar kata-kata itu tidak dipahami pembaca awam. Bahkan yang lebih fatal, wartawannya sendiri kadang tidak tahu makna sebenarnya istilah itu.

Dalam komunikasi publik dan tulisan media massa penting untuk mengurangi atau menghilangkan jargon. Bahkan orang berpendidikan, termasuk profesor sekalipun, belum tentu mengerti jargon profesi dan bidang keilmuan lain.

Jargon, atau istilah ilmiah tertentu, kadang tak bisa kita hindari. Tapi, jika itu terpaksa dipakai, tetap harus dijelaskan dengan bahasa awam. Bahkan kata “inflasi” bisa dijelaskan kepada pedagang di pasar dengan “naiknya harga cabe serta ongkos angkutan bajaj”.

Cara paling sederhana mengindari jargon adalah membayangkan Anda sedang menulis untuk orang di pasar. Coba amati kosakata sederhana yang dipakai orang di pasar, bahasa yang dipakai sehari-hari.

Jargon-jargon dalam contoh di atas bisa diubah begini:

•    Korban luka tabrakan sepeda motor sudah dievakuasi.
•    Korban luka tabrakan sepeda motor sudah dibawa ke rumah sakit.

•    Infrastruktur transportasi di Kalimantan terdegradasi.
•    Jalan dan jembatan di Kalimantan rusak berat.

•    Banten mengalami kejadian luar biasa malaria.
•    Banten mengalami wabah malaria.

•    Warga miskin Papua mengkonsumsi nasi busuk.
•    Warga miskin Papua makan nasi busuk.

•    Semarang banjir, kegiatan belajar-mengajar dihentikan.
•    Semarang banjir, sekolah diliburkan.

•    Polisi menangkap tersangka pelaku curat dan curas.
•    Polisi menangkap tersangka penjambretan dan perampokan.

•    Pengamat mencurigai kader Partai XYZ bermasalah.
•    Pengamat mencurigai kader Partai XYZ korupsi/selingkuh.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: