Kedzaliman Penulis dan Wartawan

Ketika masih menjadi mahasiswa di Bandung, salah satu yang saya pelajari di luar kelas adalah bagaimana membaca cepat. Di Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Bandung dua puluhan tahun silam saya bersyukur menemukan buku lusuh yang ditulis oleh The Liang Gie, seorang penulis buku-buku kiat, tentang bagaimana belajar secara efektif. Membaca cepat adalah salah satu pilar belajar secara efektif.

Buku panduan The Liang Gie itu bersifat praktis. Dia mengajari kita untuk membaca per kalimat atau per alenia, bukan per kata atau per huruf. Dia juga menyarankan pencahayaan ideal untuk membaca. Tapi, suatu hal yang saya paling berkesan dia ajarkan adalah bagaimana sebaiknya kita memegang buku, dan posisi buku terhadap mata. Permukaan buku bukan horisontal atau vertikal, melainkan 45 derajat dari bidang datar. Saya ingat harus membeli karton dan kemudian sibuk membuat rehal, atau penopang buku, dengan kemiringan persis 45 derajat.

Saya harus mengakui pelajaran The Liang Gie itu ada pengaruhnya pada ketrampilan dan kecepatan saya membaca. Tak hanya cepat membaca, saya juga jadi menyukai buku, terutama sastra. Sebelum saya akhirnya memutuskan berhenti kuliah, saya telah menamatkan hampir sebagian besar karya sastra klasik yang ada di perpustakaan ITB, tentu saja dengan membolos banyak kuliah.

Petualangan membaca saya lanjutkan ke Perpustakaan Masjid Salman, tak jauh dari Kampus ITB, yang anehnya tidak hanya menyimpan buku agama. Di perpustakaan ini saya melahap antara lain “Lelaki Tua dan Laut” dan “Perang Penghabisan” (Ernest Hemingway), “Kuil Kencana” (Yokio Mishima), “Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich” (Alexander Solzhenitsyn), “Rumah Perawan” (Yasunari Kawabata), “Villa des Roses” (Willem Elschot) , “Petualangan Baron Von Munchausen” dan “Sri Sumarah dan Bawuk” (Umar Kayam).

Kemampuan membaca saya rasakan melambat sekarang. Itu karena daya lihat mata yang mengendur, ketika umur tak bisa dibohongi. Tapi, saya tetap merasa bersyukur menjadi pembaca cepat. Ketrampilan ini sangat saya butuhkan justru sekarang ini ketika media dan internet menawarkan begitu banyak informasi. Begitu banyak informasi, tapi begitu sedikit waktu.

Upaya terbesar dari kegiatan membaca terletak pada pihak pembaca: dia mencari (sering harus membeli buku, koran dan majalah), membaca dan memahami, serta menikmati isinya. Pembaca kadang juga merasa perlu mencari dan membuka kamus jika ada kata-kata sulit yang membutuhkan pengetahuan tambahan untuk memahaminya. Lebih dari itu, pembaca fanatik bahkan juga melakukan upaya ekstra, seperti berlatih membaca cepat, hanya demi mengapresiasi penulis.

Tapi, di manakah tanggungjawab penulis? Penulis dan penerbit sebenarnya memiliki andil yang besar dalam membantu pembaca: memudahkan, mempercepat dan membuat nyaman membaca. Itu tidak hanya menyangkut format dan tipografi (jenis huruf) yang dipakai, melainkan juga cara menulis.

Alangkah dzalim seorang penulis yang tidak pernah merenung dan tidak peduli pada jerih payah dan upaya para pembaca. Alangkah kejam dan narsis seorang penulis yang terlalu menuntut dipahami oleh pembaca, bukannya mempermudah pembaca memahami apa yang ditulisnya. Alangkah egois seorang penulis yang tidak peduli berapa ongkos dikeluarkan pembaca dan berapa waktu dihabiskan untuk membaca buku, koran atau majalah. Alangkah dzalim penulis yang lebih suka menyiksa, ketimbang berempati kepada pembaca.

Menyiksa pembaca? Tidak berempati kepada pembaca?

Meski ini nampaknya merupakan larangan yang diketahui umum pada penulis manapun, sayangnya, ada banyak artikel dan berita di media kita yang cenderung seperti ini.

Ketika mata makin kabur sementara ada makin banyak informasi yang perlu disantap, saya kadang begitu benci dengan cara penulis dan wartawan menyajikan berita dan artikel di koran. Inilah hal-hal yang paling saya benci:

1. Jika penulisnya terlalu sibuk mempertontonkan kepintaran dengan memakai bahasa sulit

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita dari kantor Berita Antara dengan judul “78 Ribu HA Hutan Sultra Terdegradasi Tiap Tahun” (16 Juni 07) dan membaca di harian Republika berita berjudul “Bulog Indramayu Siapkan Move Regional Beras” (6 Juli 2007).

Penulis berita tadi memakai kata yang tidak pernah kita dengar dalam perbincangan di pasar atau warung kopi, karenanya sulit dipahami. Coba dengar, dia menulis “hutan terdegradasi”, sementara di warung kopi orang mengatakan “hutan rusak”. Dan apa pula yang bisa kita pahami dari “move regional beras”?

Ada makin banyak kata sulit seperti ini kita temukan di koran. “Para korban dievakuasi”, misalnya, sementara sehari-hari kita memakai bahasa sederhana “para korban dibawa ke rumah sakit”. Atau alih-alih memakai bahasa mudah seperti “penduduk desa makan nasi aking”, para wartawan memilih kata yang rumit: “penduduk desa mengkonsumsi nasi aking.”

Kecenderungan ini makin parah karena para pejabat dan intelektual yang menjadi narasumber pun cenderung memakai bahasa sulit, dan jika perlu sengaja mengatakan istilah asing yang rumit. Mungkin supaya dikira pintar atau keren, dan karenanya bermutu. Padahal sebaliknya. Dan para wartawan yang mengutip sering hanya mengutip saja tanpa mereka tahu apa makna kata sulit para narasumber.

Kewajiban menteri dan intelektual adalah berkomunikasi dengan publik, menjelaskan kebijakan pemerintah dan implikasinya kepada masyarakat dalam bahasa masyarakat. Jika mereka mengguman dengan bahasa sendiri, mereka berisiko mengkhianati masyarakat, pembaca dan pemirsa.

2. Jika penulisnya membiarkan jargon berkeliaran

Jargon adalah istilah (kata atau frasa) yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Setiap lingkungan ilmuwan dan profesional memiliki jargon-jargonnya sendiri: ahli hukum punya istilah tertentu yang sulit dipahami para dokter, dan sebaliknya. Tiap kementrian atau departemen kita juga memiliki jargon yang hanya dipahami oleh staf atau pegawai departemen bersangkutan.

Tak semestinya jargon dipakai dalam berita koran. Ini sama statusnya dengan dialek atau bahasa lokal, yang sebaiknya hanya dipakai sebagai pengecualian dalam komunikasi Bahasa Indonesia.

Bukankah “Status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD Jakarta Dicabut” (detikcom – 6 Juli 2007), bisa diganti dengan “Status Wabah Demam Berdarah sudah Dicabut”?

Kejadian Luar Biasa adalah jargon yang hanya dipahami oleh staf Departemen Kesehatan dan para dokter Puskesmas.

Belakangan ini makin banyak jargon yang muncul di koran, yang sering mempersulit komunikasi dan memicu kesalahpahaman, karena orang-orang berbicara dengan bahasa-bahasa sendiri yang orang lain tidak paham. Salah satu krisis negeri kita dicerminkan oleh kesulitan komunikasi antara departemen atau lembaga pemerintah ini.

Contoh jargon lain yang saya benci adalah curat dan curas yang umumnya hanya dipahami kalangan polisi atau wartawan kriminal. Ini merupakan akronim dari “pencurian dengan pemberatan” dan “pencurian dengan kekerasan”. Terlalu skaral kah untuk diganti dengan bahasa sehari-hari yang dipahami secara universal: copet, rampas, dan rampok?

3. Jika penulisnya kecanduan memakai akronim dan singkatan

Singkatan dan akronim makin merajalela dalam pemberitaan koran dan media elektronik. “Kasi Ops Sudin Tramtib Jakpus mengatakan pihaknya terus melakukan upaya penertiban atribut cagub” (Antara – 5 Juli 2007).

Kita cenderung menyingkat hal-hal yang tak boleh disingkat. “Rumah makan” misalnya tidak semestinya disingkat menjadi “RM”, karena jika itu dibenarkan kita akan menyingkat hampir semua kata. Bayangkan, semua kata bisa menjadi singkatan: “KT” (kamar tidur), JT (jembatan timbang), “TAK” terminal antar kota”), “AKAP” (Antar Kota Antar Propinsi).

Akronim dan singkatan adalah tradisi umum di lingkungan militer dan polisi yang, karena watak pekerjaannya membutuhkan kerahasiaan, bukan kejelasan. Singkatan dan akronim banyak digunakan dalam sandi, yang tujuannya memang tidak untuk dipahami semua orang. Dengan kata lain, mengumbar singkatan dan akronim sebenarnya memasukkan tradisi militeristik dalam komunikasi sipil.

Alasan lain mengapa saya benci: akronim dan singkatan (dengan huruf besar) merusak mata, membuat buruk perwajahan koran/majalah dan menghambat baca. Mempersulit saya membaca cepat.

Semua hal tadi—kata sulit, jargon, akronim—mempersulit pembaca. Penulis yang masih menikmati memakai bahasa sulit dan jargon (biar tampak keren) cenderung menjadi penulis yang tidak punya empati kepada pembaca. Mereka tidak menghargai uang dan waktu pembaca. Mereka dzalim! | (Farid Gaban)***

One comment

  1. Wawww…peringatan keras yang bisa saya jadikan pelajaran.
    Matur nuwun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: