Hubungan Menggambar dan Menulis

Salah satu kekuatan sebuah tulisan adalah narasi dan deskripsi, mendongeng dan melukis dalam benak pembaca. Itu tak hanya berlaku pada fiksi seperti novel, tapi juga pada tulisan non-fiksi. Bedanya: deskripsi dalam novel adalah hasil imajinasi, sementara deskripsi dalam tulisan non-fiksi adalah fakta, setidaknya fakta yang dilihat sang penulis atau wartawan.

Pernahkah kita membaca gambaran detil sebuah tulisan dan gambaran itu kita ingat hampir bertahun-tahun kemudian?

Ketrampilan membuat deskripsi yang menarik bisa dilatih. Salah satunya adalah dengan melukis, menggambar. Saya tidak merasa pintar menggambar atau melukis. Tapi, jika ke toko buku saya kadang membeli kertas gambar, kuas dan cat air. Berlatih melukis dan menggambar sketsa perlu saya lakukan sebagai bagian terpadu dari kebiasaan menulis.

Apa hubungan antara menggambar dan menulis?

PERTAMA, menggeluti bentuk dan mencampur warna adalah kegiatan kreatif. Sebagai wartawan atau penulis kita memerlukan keseimbangan antara nalar (kerja otak kiri) dan imajinasi/kreativitas (kerja otak kanan). Menggambar dan melukis merangsang serta melatih agar otak kanan terus berdenyut.

Imajinasi dan kreativitas kita perlukan dalam “problem solving” hampir di semua profesi. Kemampuan seperti ini tak hanya diperlukan penulis fiksi, tapi juga wartawan, bahkan ilmuwan dan mungkin bisnisman.

KEDUA, menggambar sketsa melatih kita peka terhadap detil visual. Deskripsi pada dasarnya adalah melukis dalam benak pembaca sebuah detil obyek lewat tulisan. Tapi, kita hanya bisa melukis lewat kata jika kita mengamati sebuah obyek secara detil, dan menggambar sketsa memaksa kita mengamati detil.

  • Berapa kuda yang menghela patung buatan Nyoman Nuarta di dekat air mancur Gedung Indosat Jakarta?
  • Detil ornamen apa yang membuat bangunan Bandara Cengkareng menjadi khas?
  • Hidung atau matakah yang membuat wajah orang itu begitu mudah diingat?
  • Apa yang menonjol dari motif kain batik Cirebon?

Kamera foto atau video memang bisa membantu kita untuk mengingat detil dari sebuah obyek. Dalam banyak hal, alat ini membantu kita menulis deskripsi secara bagus. Namun, menggambar sketsa jauh melibatkan penghayatan ketimbang hanya menekan tombol kamera, dan ini membuat sketsa merupakan alat bantu lebih kuat untuk menulis deskripsi.

Meski jurnalisme televisi telah demikian maju, yang bisa dengan cepat dan penuh warna melaporkan obyek/peristiwa secara visual, jurnalisme tulis tetap merupakan medium penting. Banyak novel/buku sangat memikat dibaca, namun gagal atau terasa hambar ketika dialihkan menjadi film.

KETIGA, sketsa itu sendiri merupakan bahan penting dalam artikel yang kita tulis. Sketsa tidak hanya menyangkut obyek yang kita lihat, tapi juga peta perjalanan atau peta situasi sebuah daerah.

Beberapa tahun lalu, sketsa yang saya buat ketika melaporkan pencarian orang hilang di Gunung Gede, Jawa Barat, dipakai sebagai bahan untuk membuat infografik di Majalah Tempo: peta evakuasi jenazah korban dan proses pencarian para korban.

Infografik kini merupakan bagian tak terpisahkan dalam jurnalisme (jurnalisme visual/grafis) dan merupakan medium penting untuk melengkapi tulisan: menjelaskan sebuah obyek yang rumit, mengajak pembaca memahami situasi sebuah daerah lewat peta, dan sebagainya.***

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: